Jumat, 09 Januari 2009

TEOLOGI KONTEKSTUAL, SEBUAH KEBUTUHAN*

Oleh Vera Solung-Loupatty, M.Teol**

Para pembaca Alkitab (baca: orang percaya) tidak dapat menghindarkan diri dari membaca Alkitab menurut ‘kaca matanya’. Maksudnya, orang percaya (termasuk saya dan saudara-saudara) yang adalah pembaca Alkitab ‘kedua’ (masa kini), tumbuh dan dibentuk oleh budaya, tantangan, pergumulan dan harapan kekinian kita. Kita membaca Alkitab dengan harapan untuk mendapatkan makna yang akan menolong kita dalam menghadapi hidup kini dan di sini. Oleh sebab itulah, teks-teks Alkitab tidak boleh menjadi teks yang asing, tapi sungguh-sungguh dapat dipahami, dihayati dan diimplementasikan dalam hidup. Kita pun akan mengalami bahwa Allah tidak hanya berbicara pada masa lalu, tapi juga bagi kita sehingga imanensi Allah tidak sekedar cerita, tapi teralami dalam hidup yang selanjutnya terekspresi dalam pengakuan, “Allah hadir dalam hidup saya/kami”.

Sehubungan dengan hal ini, metode kritik historis dalam memahami Alkitab, patutlah ‘diingat’. Metode ini telah menimbulkan kontroversi di kalangan orang-orang Kristen yang telah turut memicu munculnya Fundamentalisme di Amerika pada awal abad XX. Istilah innerancy pun mengemuka untuk tidak ’menghalalkan’ metode tersebut dalam memahami Alkitab. Menurut saya, metode tersebut perlu digunakan dalam memahami Alkitab, sebab Alkitab tidak ’turun’ dari langit, tapi muncul dari konteks hidup manusia. Bagi mereka yang tidak setuju dengan model tersebut, berpemahaman bahwa jika metode ini digunakan berarti kewibaan Alkitab tidak ada lagi. Menurut saya, menyelidiki teks-teks Alkitab secara cermat, bukan berarti melecehkan Alkitab. Kita harus menyadari bahwa teks-teks tersebut, pertama-tama ditujukan kepada pembaca mula-mula. Oleh sebab itulah, kita perlu mencari tahu situasi dan kondisi dari penulis, penerima surat/tulisan, dsb untuk dapat memahami mengapa teks tersebut ditulis agar selanjutnya kita dapat memahami dan merefleksikannya dalam hidup kita. Metode tersebut tidak dalam rangka menyangkal peran Tuhan dalam kehidupan para penulis kitab, tetapi untuk mencari tahu maksud Tuhan bagi mereka di masa lalu dan bagi kita sekarang ini.

Seorang ahli Perjanjian Baru, Rudolf Bultmann berpendapat bahwa demitologisasi penting dalam rangka memahami Alkitab. Maksudnya, tulisan-tulisan PB dibungkus oleh mitologi Yunani yang asing bagi pembaca ’kedua’, sebab itu perlu direinterpretasi. Menurutya, firman Allah harus dimengerti oleh manusia modern agar mereka dapat mendengar sabda Allah di dalamnya. Dengan demikian jelaslah, ia tidak bermaksud membuang budaya Alkitab, tetapi sekali lagi bagaimana itu direinterpretasi agar firman Allah tidak hanya untuk mereka di masa lampau, tetapi juga bagi kita kini dan di sini.

Istilah kontekstual (teologi kontekstual) muncul, pertama-tama dalam rangka peningkatan pendidikan teologi di dunia ketiga oleh Theological Education Fund (TEF), demikian menurut Hesslegrave dalam buku Kontekstualisasi. Pendidikan Teologi didorong untuk memikirkan kembali teologinya, apakah menghasilkan suatu perjumpaan yang sesungguhnya antara mahasiswa dan Injil dengan memakai bentuk-bentuk pemikiran dan kebudayaannya sendiri, dan dialog dengan lingkungannya. Penggunaan istilah kontekstualisasi dipandang lebih tepat daripada indigenisasi dan inkulturasi. Menurut Drewes dan Mojau dalam buku ”Apa Itu Teologi?”, konteks adalah seluruh dunia di luar dan di dalam diri kita. Jadi, konteks tidak hanya menyangkut budaya kita tetapi juga budaya lainnya, tantangan, peluang, modernisasi dan hal-hal lain yang mempengaruhi hidup kita. Sedangkan indigenisasi hanya berorientasi pada kebudayaan tradisional dan inkulturasi berorientasi pada kebudayaan tertentu. Kontekstualisasi adalah kegiatan atau proses penggabungan amanat Alkitab dengan situasi kondisi kita.

Konteks hidup manusia harus diperhatikan, sebab misalnya, tidak semua manusia dibentuk oleh budaya yang sama. Budaya juga tidaklah statis sebab manusia yang adalah penghasil budaya (menurut Perry & Perry dalam buku The Social Web) sekaligus pelaku budaya selalu berinteraksi di tengah dunia yang selalu berubah. Itu berarti, perubahan merupakan hal yang tidak dapat dihindari sebab manusia menghadapi hidup yang selalu berubah sehingga dibutuhkan cara ataupun perspektif baru untuk menyikapi hidup; bahkan manusia akan tiba pada tahap untuk melakukan reinterpretasi terhadap nilai-nilai budaya agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan apa yang dibutuhkan manusia. Masyarakat selalu berubah di semua tingkat kompleksitas internalnya. Di tingkat makro terjadi perubahan ekonomi, politik dan kultur. Di tingkat mikro terjadi perubahan interaksi dan perilaku individual. Masyarakat bukan sebuah kesatuan fisik (entity), tetapi seperangkat proses yang saling terkait bertingkat ganda sebagaimana yang dikatakan oleh Sztompka dalam bukunya Sosiologi Perubahan Sosial. Dengan gambaran ini, semakin jelaslah bahwa budaya Alkitab berbeda dengan budaya kita (juga budaya di tempat lain di dunia ini). Budaya kita saja selalu mengalami perubahan, apalagi budaya Alkitab yang telah ribuan tahun sebelum kita. Dengan demikian, budaya Alkitab tidak dapat berlaku mutlak untuk semua belahan dunia ini, sebab itu Alkitab perlu dipahami secara baru sesuai konteks dimana kita hidup.

Berbicara teologi kontekstual, berarti berbicara tentang negara-negara Dunia Ketiga yang masih dibelenggu oleh kemiskinan, ketidakadilan, dominasi Barat, agama Kristen merupakan minoritas, pada umumnya sebagai negara bekas kolonial dan yang sedang berupaya berdiri sejajar dengan negara-negara maju (selanjutnya setiap tempat memiliki teologi kontekstualnya). Konteks negara-negara dunia ketiga ini (Asia khususnya) telah membuat kaum minjung di Korea mengidentikkan Yesus dengan kaum minjung yang mengalami penindasan, tetapi yang kemudian beroleh kemenangan sebagaimana yang dialami oleh Yesus; kaum perempuan Asia yang banyak mengalami penderitaan karena kemiskinan dan ketidakadilan gender, meyakini Yesus adalah Tuhan (Lord) yang tidak seperti para penginjil yang datang bersamaan dengan kolonialisme yang telah membuat banyak kaum Asia (perempuan) menderita karena diperlakukan sebagai hamba.

Oleh sebab itulah, cover buku dari Sugirtharajah menampilkan Yesus tidak dengan rambut berwarna ’pirang’, tetapi Yesus yang rambutnya berwarna hitam dan yang tinggi badannya tidak setinggi ’orang bule’. Yesus dengan gambaran ’orang bule’ membuat kaum Asia merasa, Dia adalah orang asing yang datang dengan kuasa untuk mengeksploitasi. Oleh sebab itulah menurut Cobb dalam bukunya Christ and Culture in Pluralistic Era, hasil karya seni yang menggambarkan Yesus sebagai ’orang bule’ telah menyamarkan imanensi Allah dan mengedepankan transendensi-Nya sehingga Ia menjadi asing bagi kita. Yesus dengan gambaran khas orang Asia (atau gambaran orang kulit hitam-Afrika) membuat kita merasa Ia adalah bagian dari kita-Ia ada didalam kita untuk merangkul, menyembuhkan luka-luka batin lalu berjalan bergandengan tangan untuk menemukan jalan keluar dari setiap permasalahan hidup. Lebih lanjut, tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa teologi kontekstual muncul sebagai reaksi terhadap teologi tradisional (Barat) yang telah berusaha mencabut warga Asia (atau warga dunia ketiga pada umumnya) dari akar-akarnya yang telah membuat mereka hidup dan bertumbuh. Menurut Tissa Balasuriya dalam bukunya Teologi Siarah, ciri-ciri teologi tradisional, yaitu teologi yang terikat pada budaya tertentu, teologi yang berpusat pada Gereja, teologi yang didominasi kaum pria, teologi yang didominasi usia, teologi yang pro-kapitalis, teologi yang anti-komunis, teologi yang non-revolusioner, teologi yang tidak memiliki kemampuan analisis sosial dan teologi yang terlalu teoretis. Pada satu pihak ciri-ciri teologi tersebut tidaklah salah, tetapi bukan berarti selalu cocok dalam semua konteks lebih khusus lagi Asia. Teologi tradisonal sangat kuat mempengaruhi pertumbuhan Gereja dan cara berteologi dalam konteks Asia karena negara-negara Asia mengenal Injil Yesus Kristus dari para penginjil Barat (Eropa). Mereka datang dengan maksud mulia, yaitu menyampaikan kabar baik kepada manusia, tetapi yang (sering) mengabaikan konteks dari mereka yang menjadi tujuan pekabaran Injil. Jadi seharusnya, mereka tetap memberi ruang kepada warga Asia untuk memahami Injil sesuai dengan konteksnya.

Dalam rangka berteologi kontekstual, Bevans dalam bukunya ”Model-model Teologi Kontekstual” mengemukakan tentang lima model yang dapat membantu kita, yaitu model terjemahan, antropologis, praksis, sintetis dan transendental. Tidak ada model yang lebih baik daripada yang lain, sebab itulah setiap model mempunyai kekuatan dan kelemahan. Itu berarti, kontekstualisasi bukanlah yang penting sudah dilakukan penyesuaian, sebab penyesuaian yang serampangan dapat membuat kontekstualisasi terjebak pada sinkretisme. Tentang hal ini, TEF menjelaskan sebagaimana dikutip oleh Drewes-Mojau, kita harus membeda-bedakan dengan cermat antara bentuk-bentuk kontekstualisasi yang autentik dan yang palsu. Kontekstualisasi palsu menyerah pada akomodasi (penyesuaian) yang tidak kritis, suatu bentuk iman budaya. Kontekstualisasi selalu bersifat kenabian, yang selalu muncul dari suatu pertemuan yang sungguh-sungguh antara Firman Allah dan dunia-Nya, dan bergerak maju menuju tujuan untuk menantang dan mengubah situasi melalui keberakaran dan komitmen pada suatu saat historis tertentu. Dengan demikian jelaslah bahwa kontekstualisasi dinamis bukan statis. Berdasarkan deskripsi ini, teologi kontekstual merupakan sebuah kebutuhan sebab sudah selayaknya Firman Allah dapat dipahami oleh orang percaya sepanjangan zaman menurut konteksnya.

*Penulis, Dosen dan

Sekretaris Program Studi Teologi Kristen Protestan Fakultas Teologi UKIT

** Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Inspirator

Edisi Oktober-Desember 2008